Monday, June 27, 2011

BANYAK PENJAHAT JADI PEJABAT (O...Seram!)

Ketika memberikan pengarahan kepada lulusan baru profesi akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB)UGM,sabtu (25/06) Wakil Ketua KPK Bibit Selamat Riyanto mengatakan akibat politik uang (money politic) di Indonesia sekarang banyak penjahat jadi pejabat.Maka tidak heranlah diera sekarang ini banyak pejabat yang tersangkut berbagai kasus kejahatan utamanya masalah korupsi. Menurut rilis KPK yang diambil oleh berbagai media ditanaha air untuk tahun 2011 ini saja ada sekitar sepuluh kepala daerah diduga melakukan tindak pidana korupsi dan kasusnya sedang ditangani KPK,belum lagi adanya 22 kepala daerah yang juga diduga melakukan tindak pidana korupsi yang kasusnya masih dipelajari dan dilengkapi KPK untuk dapat diperiksa sebagai tersangka dalam dugaan korupsi.Terlepas dari upaya yang dilakukan KPK dalam rangka melakukan penindakan terhadap oknum-oknum pejabat yang diduga terindikasi kasus kejahatan korupsi,apa yang diutarakan oleh Bibit Selamat Riyanto patut untuk dijadikan pemikiran apa jadinya nasib rakyat Indonesia kalau para penjahat jadi pejabat?

Didalam pemberitaan harian Kompas (27/06)mantan Wakil Presiden Try Sutrisno mengatakan bahwa banyak negara diluar Indonesia seperti Singapura dan Malaysia yang mengadopsi ideologi Pancasila walaupun mereka tidak menyebut ideologi tersebut dengan Pancasila tetapi nilai-nilai ideologi tsb adalah jelas diambil dari sila-sila Pancasila dan terbukti ketika mereka menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai pedoman penyelenggaraan pemerintahannya maka kedua negara tersebut dapat menjadi negara yang maju secara ekonomi. Bagaimana dengan Indonesia? pernyataan yang dilontarkan oleh seorang wakil ketua KPK tsb sangat tendensius dan wajib dipercaya karena yang menyampaikan adalah orang yang sangat berkompeten dibidangnya,dan faktanya memang tidak dapat dipungkiri bahwa indeks angka korupsi di Indonesia dari tahun ketahun tidak pernah turun dan cendrung menaik, tajam.Setiap hari,setiap jam,dan setiap menit rakyat selalu disuguhi berita-berita kasus korupsi dari berbagai media ditanah air,dan sayangnya kasus-kasus korupsi justru dilakukan oleh pejabat yang dulunya dipilih rakyat karena berjanji akan berbuat untuk kemajuan rakyat.

Sunggguh sangat ironis sekaligus memprihatinkan jika demokrasi dijadikan sarana untuk melegetimasi sekumpulan penjahat untuk menjadi pejabat. Apa yang terjadi ini sesungguhnya sekaligus memperlihatkan suatu bukti bahwa sepanjang rakyat masih terbius dengan kilauan uang,dan sekaligus menunjukan betapa rendahnya kualitas para pemilih sebagian besar rakyat Indonesia yang karena terbius dengan rayuan uang dan penampilan sehingga mengabaikan hal-hal yang seharusnya menjadi pilihan utama seperti latar belakang karakter kejujuran (keimanan),dan kemampuan memimpin.Atau sudah saatnya seluruh komponen bangsa ini melakukan mengkaji ulang apakah memang demokrasi itu masih layak dijadikan wadah untuk meilih para pemimpin yang terbukti korup dan menyengsarakan rakyat,atau barangkali rakyat harus bersiap lahir bathin untuk menerima kesengsaraan dan penderitaan yang terus berkelanjutan.

Apapun ceritanya adalah sebuah fakta dinegara kita sekarang 'banyak penjahat yang jadi pejabat' oleh karena itu bersiap-siaplah untuk menerima ketidak adilan dan kesengsaraan. Tapi kalau kita ingin agar kehidupan rakyat semakin sejahtera seperti halnya yang menjadi cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945 yang termaktub dalam Pembukaan UUD-1945 alinea ke-IV mari kita buka kesadaran atas dasar kecerdasan untuk sama-sama menempatkan 'penjahat yang jadi pejabat' dihabitat aslinya yakni penjara dengan cara bersama-sama mengawasi jalannya pemerintahan,melaporkannya kepada pihak terkait utamnya KPK,dan bersatu melawan dan menyingkirkan para penjahat yang jadi pejabat. Insya Allah kalau semua rakyat menyadari bahwa apa yang terjadi sekarang (penjahat jadi pejabat) dibiarkan,maka itu sama artinya kita akan membiarkan anak cucu keturunan kita akan hidup dialam kesengsaraan dan penderitaan yang jauh lebih dashyat lagi.

Saturday, June 18, 2011

INDONESIA dan KEJUJURAN

Ketika media secara berjamaah membuat pemberintaan tentang derita 'keluarga Siami' yang terpaksa dievakuasi dari rumahnya sendiri oleh aparat keamanan karena diserbu warga masyarakat para orang tua siswa kelas VI SD Negeri Gadel II Tandes Surabaya,yang tidak terima karena laporan Siami kepada pihak terkait adanya dugaan 'aksi contek massal' yang dilakukan secara sistemastis yang dikoordinir oleh kepala sekolah dan beberapa orang guru. Laporan Siami kepada dinas pendidikan setempat membuat para orang tua yang anaknya juga mengikuti Ujian Nasional serta merta seperti kebakaran jenggot (meskipun mereka tidak semua berjenggot ataupun kategori kambing). Mereka merasa khawatir akibat laporan dari Siami tersebut akan membuat anak-anaknya yang mengikuti ujian nasional bisa tidak lulus dari sekolah dasar,dan para orang tua merasa bahwa semua itu tidak akan pernah terjadi kalau seandainya Siami tidak 'lancang' melaporkan adanya indikasi aksi nyontek massal di SD Negeri Gadel II Tandes Surabaya tsb. Bagi para orang tua apapun ceritanya bagi mereka yang penting anak-anak mereka lulus dari ujian nasional yang sangat-sangat menyeramkan bagi mereka,dan sakin seramnya membuat mereka hilang akal sehat. Kasus bermula dari keluhan putranya yang menceritakan,bahwa gurunya Di SD Negeri Gadel II memaksa anaknya untuk memberikan hasil ujiannya kepada anak-anak yang lain. Putra Siami tergolong siswa yang cerdas dikelasnya,dan menurut akal sehat Siami apa yang dilakukan oleh oknum guru tersebut jalas mencederai nilai-nilai luhur dari suatu pendidikan,karena dapat menimbulkan akibat yang tidak baik bagi para siswa utamanya bagi putranya sendiri,hal itu yang mendorong Siami melaporkannya kepada pihak yang terkait.

Kasus yang terjadi kepada Siami sesungguhnya bukanlah kasus yang pertama terjadi di Indonesia terkait dengan 'keberanian untuk jujur' yang pada akhirnya membuat sipemberani menjadi 'terbujur'. Barang kali kita masih ingat dengan 'Komjen Susnoduadji' yang karena keberaniannya membongkar borok dikepolisian terkait dengan terlibatnya oknum perwira tinggi diKepolisian sebagai makelar kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh oknum pegawai Depkeu Gayus Tambunan,justru terpuruk masuk tahanan dan diadili dalam kasus lain terkait dengan dana pengamanan pilkada di Jawa Barat.Kasus mana menurut pengacaranya Henry Yosodiningrat dimedia adalah kasus yang dicari-cari sebagai wujud ketidak senangan oknum diinstitusi Polri atas 'nyanyian Susno' kepada publik. tapi terlepas dari benar atau tidak yang pasti Susno ditahan setelah ybs menyampaikan kejujurannya terkait dengan kasus keterlibatan oknum perwira tinggi Polri terhadap berbagai kasus-kasus korupsi.Dan yang teranyar setelah kasus Siami ini adalah rencana direcallnya anggota DPR Wa Ode Nurhayati dari fraksi PAN yang didalam acara 'Mata Najwa di Metro TV' mengatakan bahwa di DPR banyak penjahat anggaran dan menyebut ketua DPR Marzuki Ali sebagai penjahat anggaran. Akibat ucapannya ini Wa Ode dipanggil BK dan diancam akan direcall dari DPR,bahkan berita terakhir telah muncul pula tuduhan bahwa Wa Ode telah melakukan serangkaian penipuan terhadap sejumlah pengusaha didaerah terkait dengan tuduhan bahwa Wa Ode Nurhayati telah menjanjikan sejumlah anggaran kepada daerah (makelar anggaran). Banyak lagi contoh-contoh kasus yang mencerminkan banyaknya ketidak jujuran dinegeri tercinta ini seperti 'pengungkapan kasus bank centurry' yang sampai detik ini tidak jelas,mengapa banyak koruptor yang telah lebih dulu melarikan diri keluar negri baru terbit pencekalannya seperti halnya kasus akhir-akhir ini. Komitmen SBY sebagai panglima pemberantasan korupsi dan berada digaris depan,justru dinilai oleh sebagaian anggota masyarakat justru hanya sebagai 'live service',dan tidak terbukti mampu menjaring koruptor kakap. Karena justru indeks angka kerugian negara akibat korupsi justru semakin tinggi pada masa pemerintahan SBY demikian menurut analisa para pengamat.
Sesungguhnya kejujuran adalah kualitas manusiawi dalam praktek moral sehari-hari . Kejujuran dan kepentingan (apalagi politis) selalu bertabrakan dan saling meniadakan. Kejujuran atau kepentingan mana yang lebih dominan ditentukan kadar idealisme individu. Makin tipis,rapuh,pragmatis,pilihannya pasti jatuh pada kepentingan (vice versa). Dan memang faktanya kejujuran selalu dikalahkan oleh faktor kepentingan.
Pada masa kini tidak mudah menemukan model kejujuran dalam arti penuh atau total. Kecuali figur the chosen one dan diberkahi Tuhan.Manusia selalu dicederai ketidakjujuran dalam hidupnya. Terlepas ari konteks metafisnya,ketidakjujuran muncul sepanjang proses pengalaman,koeksistensi,dan interaksi antar individu.Fenomena ketidakjujuran umumnya muncul sebagai reaksi (biasanya refleks) atas stimulasi dan kondisi yang melingkupi dan menghimpit. Sejenis mekanisme pertahanan diri dalam bahasa psikologis. Dan itu artinya proses ketidakjujuran akan terus berkelanjutan dan sistemik,jika kasus-kasus seperti yang terjadi di Tandes Surabaya Jawa Timur tidak ditindak lanjuti dalam arti menjadi suatu pembelajaran,ataupun kasus Susno,kasus Wa Ode Nurhayati, ataupu yang lainnya yang berani mengungkapkan ketidakjujuran tidak diapresiasi dengan positif oleh pemerintah dan masyarakat,maka sampai kapanpun tidak akan ada satu anak bangsapun yang akan berani mengungkapan ketidakjujuran dan ketidakberesan dinegeri ini,dan itu artinya bersiap-siaplah kita menuju 'NEGARA GAGAL'.