Ketika media secara berjamaah membuat pemberintaan tentang derita 'keluarga Siami' yang terpaksa dievakuasi dari rumahnya sendiri oleh aparat keamanan karena diserbu warga masyarakat para orang tua siswa kelas VI SD Negeri Gadel II Tandes Surabaya,yang tidak terima karena laporan Siami kepada pihak terkait adanya dugaan 'aksi contek massal' yang dilakukan secara sistemastis yang dikoordinir oleh kepala sekolah dan beberapa orang guru. Laporan Siami kepada dinas pendidikan setempat membuat para orang tua yang anaknya juga mengikuti Ujian Nasional serta merta seperti kebakaran jenggot (meskipun mereka tidak semua berjenggot ataupun kategori kambing). Mereka merasa khawatir akibat laporan dari Siami tersebut akan membuat anak-anaknya yang mengikuti ujian nasional bisa tidak lulus dari sekolah dasar,dan para orang tua merasa bahwa semua itu tidak akan pernah terjadi kalau seandainya Siami tidak 'lancang' melaporkan adanya indikasi aksi nyontek massal di SD Negeri Gadel II Tandes Surabaya tsb. Bagi para orang tua apapun ceritanya bagi mereka yang penting anak-anak mereka lulus dari ujian nasional yang sangat-sangat menyeramkan bagi mereka,dan sakin seramnya membuat mereka hilang akal sehat. Kasus bermula dari keluhan putranya yang menceritakan,bahwa gurunya Di SD Negeri Gadel II memaksa anaknya untuk memberikan hasil ujiannya kepada anak-anak yang lain. Putra Siami tergolong siswa yang cerdas dikelasnya,dan menurut akal sehat Siami apa yang dilakukan oleh oknum guru tersebut jalas mencederai nilai-nilai luhur dari suatu pendidikan,karena dapat menimbulkan akibat yang tidak baik bagi para siswa utamanya bagi putranya sendiri,hal itu yang mendorong Siami melaporkannya kepada pihak yang terkait.
Kasus yang terjadi kepada Siami sesungguhnya bukanlah kasus yang pertama terjadi di Indonesia terkait dengan 'keberanian untuk jujur' yang pada akhirnya membuat sipemberani menjadi 'terbujur'. Barang kali kita masih ingat dengan 'Komjen Susnoduadji' yang karena keberaniannya membongkar borok dikepolisian terkait dengan terlibatnya oknum perwira tinggi diKepolisian sebagai makelar kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh oknum pegawai Depkeu Gayus Tambunan,justru terpuruk masuk tahanan dan diadili dalam kasus lain terkait dengan dana pengamanan pilkada di Jawa Barat.Kasus mana menurut pengacaranya Henry Yosodiningrat dimedia adalah kasus yang dicari-cari sebagai wujud ketidak senangan oknum diinstitusi Polri atas 'nyanyian Susno' kepada publik. tapi terlepas dari benar atau tidak yang pasti Susno ditahan setelah ybs menyampaikan kejujurannya terkait dengan kasus keterlibatan oknum perwira tinggi Polri terhadap berbagai kasus-kasus korupsi.Dan yang teranyar setelah kasus Siami ini adalah rencana direcallnya anggota DPR Wa Ode Nurhayati dari fraksi PAN yang didalam acara 'Mata Najwa di Metro TV' mengatakan bahwa di DPR banyak penjahat anggaran dan menyebut ketua DPR Marzuki Ali sebagai penjahat anggaran. Akibat ucapannya ini Wa Ode dipanggil BK dan diancam akan direcall dari DPR,bahkan berita terakhir telah muncul pula tuduhan bahwa Wa Ode telah melakukan serangkaian penipuan terhadap sejumlah pengusaha didaerah terkait dengan tuduhan bahwa Wa Ode Nurhayati telah menjanjikan sejumlah anggaran kepada daerah (makelar anggaran). Banyak lagi contoh-contoh kasus yang mencerminkan banyaknya ketidak jujuran dinegeri tercinta ini seperti 'pengungkapan kasus bank centurry' yang sampai detik ini tidak jelas,mengapa banyak koruptor yang telah lebih dulu melarikan diri keluar negri baru terbit pencekalannya seperti halnya kasus akhir-akhir ini. Komitmen SBY sebagai panglima pemberantasan korupsi dan berada digaris depan,justru dinilai oleh sebagaian anggota masyarakat justru hanya sebagai 'live service',dan tidak terbukti mampu menjaring koruptor kakap. Karena justru indeks angka kerugian negara akibat korupsi justru semakin tinggi pada masa pemerintahan SBY demikian menurut analisa para pengamat.
Sesungguhnya kejujuran adalah kualitas manusiawi dalam praktek moral sehari-hari . Kejujuran dan kepentingan (apalagi politis) selalu bertabrakan dan saling meniadakan. Kejujuran atau kepentingan mana yang lebih dominan ditentukan kadar idealisme individu. Makin tipis,rapuh,pragmatis,pilihannya pasti jatuh pada kepentingan (vice versa). Dan memang faktanya kejujuran selalu dikalahkan oleh faktor kepentingan.
Pada masa kini tidak mudah menemukan model kejujuran dalam arti penuh atau total. Kecuali figur the chosen one dan diberkahi Tuhan.Manusia selalu dicederai ketidakjujuran dalam hidupnya. Terlepas ari konteks metafisnya,ketidakjujuran muncul sepanjang proses pengalaman,koeksistensi,dan interaksi antar individu.Fenomena ketidakjujuran umumnya muncul sebagai reaksi (biasanya refleks) atas stimulasi dan kondisi yang melingkupi dan menghimpit. Sejenis mekanisme pertahanan diri dalam bahasa psikologis. Dan itu artinya proses ketidakjujuran akan terus berkelanjutan dan sistemik,jika kasus-kasus seperti yang terjadi di Tandes Surabaya Jawa Timur tidak ditindak lanjuti dalam arti menjadi suatu pembelajaran,ataupun kasus Susno,kasus Wa Ode Nurhayati, ataupu yang lainnya yang berani mengungkapkan ketidakjujuran tidak diapresiasi dengan positif oleh pemerintah dan masyarakat,maka sampai kapanpun tidak akan ada satu anak bangsapun yang akan berani mengungkapan ketidakjujuran dan ketidakberesan dinegeri ini,dan itu artinya bersiap-siaplah kita menuju 'NEGARA GAGAL'.
No comments:
Post a Comment